Monday, November 25, 2013

HASIL STUDI LAPANGAN KPMD KE PENGRAJIN SLONDOK PUYUR DI DESA SUMURARUM KECAMATAN GRABAG KABUPATEN MAGELANG



Pada tanggal 4 Nopember 2013 KPMD dan Kelembagaan BKAD melakukan studi lapangan melihat langsung sentra pembuatan slondok puyur di Desa Sumurarum Kecamatan Grabag Kabupaten Magelang, dengan maksud dan tujuan mendapatkan gambaran nyata tentang kegiatan wirausaha dengan memanfaatkan potensi lokal sehingga diharapkan dapat menginspirasi untuk melakukan hal serupa meskipun dengan bahan maupun cara yang berbeda bagi kader ataupun kader nanti dapat menyampaikan kepada masyarakat lainnya. Setelah mendengar paparan tentang hal ikwal pembuatan slondok, melakukan wawancara dengan menggali dengan berbagai pertanyaan dengan sistim kelompok tugas masing-masing dan melihat langsung pembuatan slondok puyur , inilah hasil yang dapat disajikan dari kunjungan lapangan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Sejarah Slondok Puyur di Desa Sumurarum
Di Dusun Purwogondo Desa Sumurarum pada decade tahun 1970           penduduk setempat sudah mengolah krupuk dengan bahan ketela, seperti ceriping, opak, samier, dll. Namun pada akhir tahun 1970 masyarakat mulai berinovasi mengolah ketela yang kemudian diberi nama puyur dan berkembang lagi sampai awal tahun 1980 menjadi slondok. Puyur dan slondok waktu itu masih diproduksi dalam jumlah kecil, karena masih dikerjakan dengan tenaga manusia saja. Semakin lama permintaan puyur dan slondok semakin meningkat, sehingga para pengrajin merasa kuwalahan melayani permintaan pasar. Hal ini memacu kreatifitas seorang pengrajin yang bernama Bajuri untuk membuat peralatan yang membantu proses produksi slondok puyur lebih banyak. Sehingga terciptalah dari tangannya mesin-mesin sederhana dan rak-rak dari bambu yang praktis untuk menaruh bahan-bahan proses produksi. Karena Bapak Bajuri mempunyai sifat social yang tinggi sehingga tidak mematenkan hasil kreatifitasnya bahkan siapa saja yang mau belajar dan ingin membuat alat seperti dirinya akan diberi tahu dan dibantu. Maka dengan cepat seluruh pengrajin di Dusun Purwogondo, bahkan juga Dusun dan Desa lain menggunakan alat-alat hasil temuan Pak Bajuri tersebut sampai sekarang.
Pada tahun 2006  ada permasalahan tentang ketimpangan antar pembuat puyur dan slondok. Untuk dijelaskan bahwa pengrajin puyur dan slondok dibagi menjadi 2 yaitu pengrajin puyur dan slondok tawar (belum dibumbui) dan pembumbu yaitu pengrajin tawar menjual kepada pengepul dan selanjutnya pengepul membuat bumbu baru dijual dipasar. Ketimpangan tersebut terletak pada hasil, bahwa pengrajin tawar untuk produksi membutuhkan waktu 8 – 10 hari dengan hasil keuntungan 400 rupiah per kilogramnya. Sedangkan dari pembumbu dalam waktu 2 jam bisa meraup untung Rp.1.600 per kilogramnya. Akhirnya dengan difasilitasi oleh pemerintah Kabupaten Magelang terbentuklah klaster slondok puyur. Klaster slondok puyur ini merupakan naungan bagi pengusaha slondok puyur dalam mencari bahan baku, kayu bakar, pemasaran dan pengemasan. Diklaster slondok puyur terdapat + 250 pengrajin yang terdiri dari 170 pengrajin tawar Dn 60 pembumbu
  1. Bahan baku dan teknik pengolahan produk
Bahan baku slondok puyur adalah ketela pohon ( singkong ) bahan baku ini biasa didatangkan dari daerah Grabag sendiri seperti Pakis dan sekitarnya, ini termasuk kualitas bahan baku paling bagus, kemudian dari Wonosobo, Bahkan sampai juga dikirim dari daerah Rembang. Harga ketela sampai lokasi berkisar antara Rp.1.000 sd Rp.1.250. Para pengrajin dalam mendatangkan singkong bisa langsung pesan kepada pedagang ketela, tetapi kebanyakan mengambil dari para pengepul dengan konsekuensi hasil slondok dan puyur tawarnya disetor kepada pengepul tersebut. Untuk teknik pengolahannya bisa diceritakan sebagai berikut : Pertama ketela dikupas, pengupasan menggunakan alat seperti pisau kerok, kemudian ketela yang telah dikupas dicuci bersih, selanjutnya ketela diparut. Hasil parutan ketela kemudian dibungkus karung dan dipres untuk dihilangkan kadar airnya, setelah itu langkah selanjutnya adalah menepungkan atau membuat tepung dari parutan ketela yang telah dipres tersebut, sambil dibersihkan sontrotnya ( urat-urat kayu ketela ), kemudian dikukus dengan kukusan bamboo berbentuk kerucut, biasanya sekali kukus ada 6 tungku. Setelah dikukus langsung panas-panas dimasukkan dalam mesin penggiling berbentuk seperti getuk (untuk pembuatan puyur), kemudian hasilnya akan berbentuk lonjoran bulat dan setelah 2 – 3 hari baru bisa dipotong selanjutnya di jemur. Sedangkan untuk pembuatan slondok perbedaannya adalah setelah dikukus kemudian ditumplek masih dalam bentuk bucu, kemudian setelah 2 – 3 hari dipotong menjadi lonjoran-lonjoran persegi empat selanjutnya dipotong panjang-panjang kemudian dijemur. Setelah kering oleh pengrajin slondok tawar dibawa ke pembumbu atau pengepul. Selanjutnya oleh pengepul slondok puyur dibumbui dengan cara 1 kwintal slondok puyur dicampur bumbu, yaitu cabe, garam dan gula. Untuk 1 kwintal slondok puyur dibutuhkan 1 kg glutamate dan 4 kg gula. Selanjutnya slondok puyur dikeringkan lagi beberapa saat dan terakhir dikemas dalam plastic sesuai kebutuhan, yaitu ada yang ½ kg, ada yang 5 Kg. Rata –rata setiap perajin dalam satu bulan membuat slondok puyur 3 kali. Setiap memproduksi kapasitasnya 4 – 5 ton, sehingga dalam satu bulannya mampu berproduksi sekitar 12 – 15 ton.
  1. Sumber permodalan
Untuk permodalan, rupanya pengrajin slondok puyur dan pembumbu tidak mendapatkan kesulitan, karena pemerintah Kabupaten Magelang memfasilitasi  peminjaman melalui Bank Pasar dengan jasa Cuma 0,8% per bulan. H Heri salah seorang pengepul atau pembumbu mengaku mendapat pinjaman sampai dengan Rp.300 juta rupiah.
  1. Pemasaran produk
Slondok puyur sudah sangat terkenal baik di sekitar Grabag maupun daerah lainnya. Dipasar-pasar tradisional banyak dijumpai penjual slondok puyur mentah maupun mateng. Khusus untuk d sentra produksi slondok puyur, hanya menjual slondok puyur mentah, dalam kemasan ½ kg dan 5 kg, tetapi kemasan ½ kg pun tetap dikemas 5 kg, artinya apabila kita ingin membeli di sentra slondok puyur di Desa sumurarum minimal harus 5 kg. banyak pengepul yang sudah bekerja sama dengan pabrikan di Jakarta dan Bandung. Disana slondok puyur tersebut digoreng dan dikemas lagi menjadi snack dengan aneka rasa. Harga per kilogramnya dilokasi berkisar antara Rp.8.000 – Rp.10.000. Para pabrikan mengambil sendiri ke sentra produksi. Bila terpaksa harus kirim maka biaya ditambah dengan transportasi ongkos kirim. Bagi yang ingin bermitra memasarkan slondok puyur masih sangat terbuka lebar setiap saat bisa dilayani di Desa sumurarum dengan syarat pembayarannya cash.
  1. Hambatan dan kendala dalam melaksanakan usaha
Hambatan dan kendala dalam melaksanakan usaha pastilah ada, tetapi karena usaha puyur slondok ini sudah menjadi pekerjaan mencari nafkah, tentulah setiap hambatan dan kendala segera berusaha diatasi. Hambatan-hambatan yang dirasakan oleh pengrajin antara lain :
1.    Bahan baku ketela, merupakan bahan baku utama, apabila kebetulan mendapati ketela yang tidak medok, menyebabkan hasil produksinya tidak baik, bahkan bisa menyebabkan gagal produksi, untuk hal tersebut pengrajin ketela tidak sembarangan membeli ketela, tetapi kepada orang-orang yang yang benar-benar sudah terbiasa mengirim ketela.
2.    Karena produksi ini sangat  tergantung kepada matahari dalam pengeringan maka apabila musim hujan, menyebabkan pengeringan lebih lama dan hasilnyapun kurang sebagus kalau cuaca terang. Meskipun sudah dibantu open oleh Dinas Perindustrian, tetap saja pengeringan dengan matahari yang paling bagus.
3.    Dalam permodalan tidak ada hambatan yang berarti karena sudah ada Bank Pasar yang membantu member pinjaman.
4.    Dalam pemasaran untuk pengepul-pengepul besar lebih senang bekerja sama dengan pabrikan. Hal ini disebabkan pabrikan lebih konsisten dalam pembayaran dibandingkan dengan para bakul pasar. Pengalaman para bakul pernah mengambil satu kali dua kali dibayar tetapi yang tiga, empat lima kali berikutnya nunggak bahkan kabur.
5.    Untuk pengelolaan limbah produksi belum ada penanganan yang menambah nilai ekonomis. Limbah produksi yang utama adalah kulit ketela selama ini hanya diambil oleh tetangga desa untuk pakan ternak, tanpa harus membayar. Hal ini karena sudah ada yang mengambil saja sudah senang ikut membantu membersihkan atau membuang kulit ketela. Sedangkan limbah lainnya adalah air yang keluar pada saat ketela parutan dipres. Padahal air tersebut sedikit banyak masih mengandung pati ketela. Tetapi selama ini pengrajin belum bisa mengolahnya.
  1. Analisis Usaha Slondok Puyur :
Keuntungan Pengrajin Produksi Slondok tawar per 100 Kg Ketela :
1.    Harga singkong/kg Rp.1.200 x 100 Kg                      Rp. 120.000
2.    Bumbu Campuran garam dll                                       Rp.    15.000
3.    Bahan baku kayu                                                          Rp.      7.500
4.    Tenaga kerja global                                                       Rp.    20.000
5.    Plastik dll dihitung                                                         Rp.      2.500
Jumlah biaya produksi                                                 Rp. 165.000
Hasil produksi 25 kg dengan harga jual @7000      Rp. 175.000
Keuntungan hasil produksi 25 kg slondok               Rp.   10.000
Hasil usaha per 1 kg                                                     Rp.        400
Hasil usaha per satu ton sebanyak 250 kg               Rp. 100.000
Keuntungan Pembumbu / Pengepul
  1. Harga Bahan Slondok tawar 25 kg slondok                   Rp. 175.000
  2. Bumbu 1 dalam 1 resep per 25 kg slondok                     Rp.   15.000
  3. Plastik kemasan ½ kg                                                         Rp.   10.000
  4. Bahan bakar                                                                                     Rp.        500
  5. Plastik dll dihitung                                                               Rp.     2.500
  6. Listrik                                                                                      Rp.        250
  7. Tenaga kerja 2 orang                                                          Rp.    5.000
  8. Biaya lain-lain termasuk komunikasi/transportasi         Rp.       200
Jumlah                                                                                   Rp. 208.450

Harga jual di pasar Rp.10.000 x 25 Kg                            Rp. 250.000
HPP                                                                                        Rp. 208.450
Keuntungan per kg                                                             Rp.      1.662
Hasil usaha per satu ton ketela/ sebanyak 250 kg slondok Rp. 41.550

Saturday, November 16, 2013

MENGIKUTI STUDI BANDING DESA BERGASKIDUL KE DESA CATURTUNGGAL KEC DEPOK KAB SLEMAN



Mendapat undangan dari Pemerintah Desa Bergaskidul untuk mengikuti studi banding ke Desa Caturtunggal rasanya berbunga-bunga, bukan karena Desa Caturtunggal terletak di daerah Yogyakarta, tetapi  karena kepingin melihat secara langsung desa yang sudah sangat terkenal dengan perencanaan pembangunannya, PADnya dan hal-hal lainnya. Akhirnya hari yang ditunggupun tiba, yaitu pada hari Kamis tanggal 3 Oktober 2013 tepat jam 07.00 pagi rombongan studi banding berangkat
ke Jogyakarta. Dengan menggunakan 2 buah bus Trans Jaya rombongan peserta dari Desa Bergaskidul bisa dikatakan Full tim, jumlah peserta kurang lebih ada 120 orang, terdiri dari unsure perangkat , BPD, PKK, Linmas, RT, pengurus BUMDES dan RW dan 7 orang calon Kepala Desa. Sungguh merupakan jumlah yang tidak sedikit, tentu saja mungkin membutuhkan budget yang lumayan besar. bukan berapa rupiah dan dari mana sumber dananya yang akan tersaji dalam liputan ini, karena hal tersebut memang urusan internal sendiri dari panitia studi banding. Perjalanan dalam suasana yang sangat fresh, joke-joke atau humor segar saling bersahutan ditambah fasilitas dari bus yang dilengkapi vcd player karaoke menambah gayeng. Pada jam 10.30 sampailah di tempat tujuan studi banding. Rombongan di terima oleh Kepala Desa dan jajarannya di damping dari staf Kecamatan Depok dan Staf Bapermasdes Kabupaten Seman, perwakilan BPD, perwakilan RT dan RW. Acara dipimpin oleh sekretaris Desa Caturtunggal. Acara pertama diberikan kepada Desa Bergaskidul untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Diwakili Bp Mindarto dari Staf Pemerintahan Bapermasdes Kabupaten Semarang disampaikan bahwa tujuan dari studi banding adalah untuk belajar dari prestasi-prestasi yang telah dicapai oleh Desa Caturyunggal serta mendapatkan bekal untuk melaksanakan hajatan pilkades yang kebetulan antara Desa Bergaskidul dan Desa Caturtunggal ada kemiripan yaitu sama-sama akan melaksanakan pilkades pada tanggal 20 Oktober, dengan calon Kepala Desa sama sebanyak 7 orang dan biaya pilkades sama-sama gratis tidak dibebankan kepada calon Kepala Desa, hanya saja anggaran pilkades Desa Bergaskidul sebesar 33 juta sedangkan Desa Caturtunggal sebesar 450 juta.
Desa Caturtunggal termasuk dalam wilayah Kecamatan Depok Kabupaten Sleman, merupakan desa besar terdiri dari 24 dukuhan, 55 kampung, 95 RW, 293 RT dan jumlah penduduk sekitar 64.000 jiwa serta ada 53.000 DPT. Wow…sebuah desa yang luar biasa, jumlah penduduknya hampir menyamai penduduk Kecamatan Bergas yang berpenduduk 65.000 jiwa.  Desa Caturtunggal merupakan desa metropolitan, bagaimana tidak? Dalam wilayah desa tersebut ada 22 perguruan tinggi, termasuk didalamnya Universitas Gadjah Mada yang sangat kondang, 2 buah pasar, 2 buah Polsek dan banyak sekali hotel seperti Gand Ambarukma termasuk dalam wilayah Desa Caturtunggal. Kepala Desanya masih muda bernama Agus Santoso, S Psi yang berniat maju menjadi calon Kepala Desa periode berikutnya. Meskipun di tengah kota, Desa Caturtunggal tidak menjadi kelurahan karena di Kabupaten Sleman tidak ada Kelurahan dengan alasan agar adat kebiasaan desa masih terjaga dan desa lebih dapat mengatur sendiri kebutuhannya. Perangkat desa masih mempunyai bengkok, sedangkan BPD sebulan untuk  mendapat insentif untuk Ketua sebesarRp.500.000, Sekretaris sebesar Rp 475.000,- Ketua Pokja sebesar Rp.450.000 dan anggota sebesar Rp.400.000 per bulan. Hak BPD adalah sebesar 10% dari pendapatan bersih desa, biasanya pertahun untuk operasional sebesar 50% dan sisanya dibagi rata anggota BPD, pernah mereka mendapatkan 5 juta per orang. Jumlah total APBDes Caturtunggal sebesar 1,6 M. dari jumlah tersebut bantuan dari Pemerintah Kabupaten sebesar 269 juta lainnya dari Pendapatan Asli Desa (PAD) sebesar 800 juta dan restritusi pajak. Sumber PAD antara lain dari Pasar Desa ada 2 buah, asrama desa dan sewa pertokoan desa. RPJMdes 5 tahunan bisa dicapai dalam waktu 3 tahun. Untuk penyusunan RPJMdes,  RKPdes dan musrenbangdes dibentuk Tim Perumus. Salah satu tugas dari Tim Perumus adalah mendampingi musyawarah dusun. Musyawarah dusun mendapat subsidi dari desa sebesar Rp.750.000. RPJMdesa dan RKPdes Desa Caturtunggal no 1 sekabupaten dan tidak pernah telat. Kira-kira jam 12.30 rombongan studi banding mohon diri dari Desa Caturtunggal dan melanjutkan ke tempat wisata kerajinan kulit Semanding dan pantai Parangtritis dan kira- kira jam 09.30 malam sudah kembali lagi ke Desa Bergaskidul.
Studi banding tersebut sangat berkesan menambah wawasan dan kekompakan tokoh masyarakat Desa Bergaskidul, terutama bagi calon Kepala Desa bisa digunakan sebagai referensi apabila nanti menjabat sebagai Kepala Desa